Senin, 26 Mei 2014

REVIEW JURNAL TENTANG SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA BANK

·         Identitas Artikel

Tema               : Sumber dan Penggunaan Dana Bank
Judul               : Analisis Sumber dan Penggunaan Dana dalam Rangka Menilai Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Bank Riau)
Pengarang       : Jenita
Tahun              : 2002

·         LATAR BELAKANG MASALAH

·         Fenomena
Bank merupakan salah satu  lembaga keuangan yang bertugas sebagai lembaga perantara dan memiliki tugas untuk menghimpun dan menyalurkan dana masyakat. Sumber dana yang diperoleh bisa dari intern maupun ekstern. Untuk intern diperoleh dari bank itu sendiri, yaitu bisa berupa setoran modal dari pemegang saham, cadangan laba dan juga laba yang belum dibagi. Sementara dari ekstern, dana bank diperoleh melalui simpanan masyarakat seperti giro, deposito dan tabungan. Dan ada juga dana yang dihimpun melalui lembaga lain seperti Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI), pinjaman antar bank (call money), pinjaman dari bank luar negeri dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).
Sementara itu untuk dana yang sudah berhasil dihimpun oleh Bank kemudian disalurkan kedalam  bentuk kredit kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu juga dana tersebut digunakan sebagai cadangan kas bagi bank dimana untuk memenuhi ketentuan likuiditas wajib minimum  dan kegiatan operasional bank seperti misalkan penarikan simpanan oleh nasabah,dll. Banyak bank yang terlikuidasi dikarenakan ketidak efisiennya dalam mengelola keuangan.

·         Motivasi Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kinerja PT. Bank Riau periode tahun 1997-2001 dalam  mengelola sumber dan pengelolaan dananya. Apakah ada hubungan yang terkait diantara kedua hal tersebut.


  METODOLOGI

·         Data
Data yang digunakan merupakan data sekunder dimana data tersebut diperoleh PT. Bank Riau berupa sumber-sumber dan penggunaan dana serta laporan keuangannya.

·         Variabel

Variabel yang digunakan dalam  penelitian ini adalah sumber dan penggunaan dana pada PT. Bank Riau juga rasio kinerja bank yang terdiri atas LDR (Loan to Deposit Ratio), GWM (Giro Wajib Minuimum), Cash Ratio, CAR (Capital Asset Ratio), Profit Margin, Operating Margin, Net Interest Margin, NIM (Net Interest Margin), Interest Spread, ROA (Return on Asset), dan ROE (Return on Equity).
·         Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif yaitu menggambarkan atau  menganalisis hasil penelitian dan menggunakan rasio-rasio untuk menganalisis hasil yang disajikan secara lebih luas atau bersifat generalisasi, sehingga dapat diambil kesimpulan dalam menilai kinerja bank.


·         HASIL DAN PENELITIAN


Tabel 1. Rasio Kinerja PT. Bank Riau periode 1997-2001



Sumber: Hasil olahan dari Laporan Keuangan PT. Bank Riau periode 1997-2001
Sumber dana PT. Bank Riau tahun 2001 mengalami peningkatan yang berasal dari giro sebagai akibat dari munculnya produk baru. Dana giro erat kaitannya dengan likuiditas, karena giro merupakan dana yang dapat diambil setiap saat dengan menggunakan cek, sehingga bank tersebut harus menyediakan kas lebih besar sehingga cash rationya meningkat. Dari hasil rata-rata menunjukkan bahwa cash ratio PT. Bank Riau berada pada 4,48% menunjukkan cash ratio yang lebih rendah dari ketentuan BI yaitu 5-10% sehingga bank bisa dikategorikan baik. Karena semakin besar cash ratio akan menyebabkan adanya idle fund yang menyebabkan tingkat profitabilitas (kemampuan bank untuk dapat menghasilkan laba) yang akan semakin menurun.

Sumber dana yang terdapat pada pinjaman yang diterima dari Bank Indonesia tahun 2000 mengalami penurunan. Hal ini berkaitan dengan turunnya kredit yang diberikan, karena Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) bertujuan untuk memberikan sarana kredit kepada masyarakat menengah ke bawah dengan tingkat suku bunga rendah seperti sektor riil yaitu pertanian, perumahan (KPR), dll. Sehingga terjadi penurunan LDR dari tahun 1999 ke 2000 sebesar 8,19%. Rata-rata LDR PT. Bank Riau lebih kecil dari standar yang diterapkan BI antara 85-110%, sehingga hal ini menunjukkan bahwa tingkat likuiditas bank ini sangat potensial.

      Dengan membandingkan giro pada BI terhadap dana pihak ketiga maka GWM yang diperoleh selama lima tahun terakhir rata-ratanya adalah 6,35% dimana berada diantara ukuran standar BI yaitu 5%-10%. Sehingga tingkat likuiditas bank ini bisa dikatakan baik. Apabila GWM yang terlalu besar dapat mengancam likuiditas bank, karena menyebabkan yang adanya idle fund dimana dana tersebut tidak dapat menghasilkan pendapatan bagi bank.   

Sumber dana yang terdapat pada dana sendiri seperti halnya laba atau rugi tahun berjalan atau laba setelah pajak pada tahun 1998-2000 mengalami penurunan, sehingga hal ini erat kaitannya dengan ROE (Return on Equity), CAR (Cash on Asset Ratio), dan Profit Margin yang juga menurun. Misalnya profit margin tahun 1998 yang tadinya sebesar 22,02% menjadi 16,59% pada tahun 1999.

Sementara untuk penggunaan dana berkaitan dengan profitabilitas bank. untuk itu bank harus memperhatikan sasaran yang dicapai, kredit yang diberikan berkaitan dengan suku bunga kredit yang diiringi dengan suku bunga dana. Besar kecilnya perbedaan ini berpengaruh terhadap tinggi rendah rentabilitas bank. kredit memberikan penghasilan terbesar pada bank, manajemen kredit lebih bersifat permanent investment, karena didasarkan pada kegiatan perkreditan yang merupakan investasi utama dan sangat dominan dikelola bank.


Selain itu penggunaan dana juga erat kaitannya dengan NIM (Net Interest Margin), Interest Spread. Jika kredit setiap tahunnya mengalami peningkatan yang tidak diiringi dengan pendapatan bunga yang diperoleh penempatan bank lain, penyertaan, dan dana pada pihak ketiga maka akan menyebabkan NIM mengalami penurunan.



·         KESIMPULAN DAN SARAN
·         Kesimpulan

Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dana yang dihimpun oleh bank akan mempengaruhi bagaimana kinerja suatu bank yang bisa dilihat dari berbagai rasio kerja. Dari data yang ada, kinerja PT. Bank Riau dapat dikategorikan sudah baik baik dari kemampuan bank untuk mencairkan dananya, meningkatkan labanya dan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

SARAN

Peningkatan sumber dana yang tidak diiringi dengan peningkatan penggunaan dana akan menurunkan profitabilitas, sehingga disarankan kepada PT. Bank Riau untuk selalu menjaga likuiditasnya dengan selalu meningkatkan proftabilitasnya. Dana yang ada di bank harus tepat, efisien dan efektif dalam pengelolaannya agar tidak terjadi hal yang merugikan, seperti misalnya bank dilikuidasi.

   

Senin, 28 April 2014

TUGAS TULISAN KEL 7 Pengertian laporan keuangan konsolidasi masalah khusus


           Laba Antar Perusahaan

Selama diantara perusahaan yang berafiliasi sebagai unit usaha masih tetap melanjutkan usahanya masing-masing, maka tidak merupakan suatu hal yang mistahil jika diantara unit-unit usaha tersebut melakukan jual-beli berupa barang / jasa yang dihasilkan maupun harta tak bergerak untuk fasilitas pabriknya
Apabila hal ini terjadi berarti akan mengakibatkan timbulnya laba ( rugi ) bagi pihak yang menjual, dan sudah semestinya apabila laba rugi yang terjadi ini diakui dan dilaporkan dalam laporan laba rugi individual
.

Didalam laba antar perusahaan dibagi 2, yaitu :

1)   Laba atas sediaan

2)    Laba atas aktiva yang disusutkan

1.      Laba atas sediaan
. a. penjualan dalam induk
1) Penguasaan 100%
2) Penguasaan <100%
b.Penjualan oleh Anak
1) Penguasaan 100%
2) Penguasaan <100%
2.  Laba atas Aktiva yang Disusutkan
  1. Penjualan oleh Induk
1) Penguasaan 100%
2) Penguasaan <100%

  1. Penjualan oleh Anak
1) Penguasaan 100%
2) Penguasaan <100%
              OBLIGASI ANTAR PERUSAHAAN
Seperti halnya transaksi jual beli baik berupa barang-barang dagangan, jasa-jasa maupun fasilitas-fasilitas produksi lainnya, maka sangat dimungkinkan terjadinya pemilikan (surat hutang ) obligasi dari suatu perusahaan oleh perusahaan lain didalam lingkungan perusahaan yang berafiliasi.
1.Saham Prefferen dan Saham Biasa Anak
ada beberapa jenis modal saham prioritas, yang satu sama lain mempunyai akibat (pengaruh) yang berbeda-beda khususnya dilihat dari segi hak-hak penyertaannya
Sifat saham prefferen adalah :
·       2.  Tidak kumulatif dan tidak berpartisipasi (TKTB), dimana klaim terhadap kekayaan bersih perusahaan sebatas nominalnya.Hak kepemilikan atau klaim terhadap kekayaan bersih perusahaan terbatas hanya sebesar nilai nominal, dan saldo laba ditahan seluruhnya merupakan bagian dari para pemegang saham biasa. sebaliknya, saldo defisit seluruhnya menjadi tanggungan para pemegang saham biasa pula.
·         3. Kumulatif dan tidak berpartisipasi (KTB), klaim terhadap kekayaan bersih
perusahaan sebatas nominalnya, dan mempunyai hak atas deviden.Hak/klaim terhadap kekayaan bersih sebesar nilai nominal jika semua dividen yang menjadi haknya sampai dengan tanggal terakhir telah dibagikan. apabila ada dividen yang menunggak dalam satu tahun buku (periode akuntansi), maka hak atas dividen harus diperhitungkan dulu dari saldo laba yang ditahan.
·         4.Tidak kumulatif dan berpartisipasi penuh (TKB), dimana hak atas deviden hanya apabila perusahaan mengalami laba sajaHak/klaim terhadap kekayaan bersih sebesar nilai nominal. hak dividen (bagian laba) hanya diperoleh apabila perusahaan mendapatkan laba, sedangkan jika menderita rugi perusahaan tidak mempunyai hak atas dividen dalam tahun buku yang bersangkutan. Semua defisit yang terjadi menjadi tanggung jawab pemegang saham biasa
5. Kumulatif dan berpartisipasi penuh (KB), mencakup hak atas kekayaan bersih dan laba Memiliki hak/klaim terhadap kekayaan bersih dan juga hak atas laba (dividen) yang kumulatif serta mempunyai hak atas partisipasinya di dalam jumlah modal yang ditetapkan (sesuai dengan ketentuan yang berlaku) terhadap sisa laba jika ada. Jumlah defisit jika ada merupakan sepenuhnya tanggungjawab pemegang saham biasa.
CONTOH SOAL :
Struktur modal anak adalah sebagai berikut :
            6% saham preferen, 5.000 lembar @ Rp. 10                       Rp.   50.000
            Saham biasa, 10.000 lembar @ Rp. 10                     Rp. 100.000
            Agio saham biasa                                                       Rp.     5.000
            Laba yang ditahan                                                     Rp.   45.000
                                                            Jumlah :                    Rp. 200.000



Tidak kumulatif tidak berpartisipasi (TKTB)

Saham Preferen
Saham Biasa
Jumlah
Nominal Saham
50.000
100.000
150.000
Agio Saham
-
5.000
5.000
Laba yang Ditahan
-
45.000
45.000
Jumlah :
50.000
150.000
200.000

Kumulatif tidak berpartisipasi (KTB)

Saham Preferen
Saham Biasa
Jumlah
Nominal Saham
50.000
100.000
150.000
Agio Saham
-
5.000
5.000
Laba yang Ditahan
6% x Rp. 50.000

3.000

42.000
45.000
Jumlah :
53.000
147.000
200.000

Tidak kumulatif berpartisipasi penuh (TKB)

Saham Preferen
Saham Biasa
Jumlah
Nominal Saham
50.000
100.000
150.000
Agio Saham
-
5.000
5.000
Laba yang Ditahan
  5/15 x Rp. 45.000
10/15 x Rp. 45.000

15.000


30.000
45.000
Jumlah :
65.000
135.000
200.000


Kumulatif  berpartisipasi penuh (KB)

Saham Preferen
Saham Biasa
Jumlah
Nominal Saham
50.000
100.000
150.000
Agio Saham
-
5.000
5.000
Laba yang Ditahan
6% x Rp. 50.000
Sisa :
  5/15 x Rp. 42.000
10/15 x Rp. 42.000

3.000

14.000




28.000
45.000
Jumlah :
67.000
133.000
200.000
DEVIDEN SAHAM ANAK
Apabila saham bonus dibagikan oleh perusahaan anak, maka pada perusahaan anak terjadi perubahan posisi modalnya, karena hal ini berarti terjadi perubahan status dari sebagian saldo laba yang ditahan menjadi modal statutair. Namun demikian dilihat dari perusahaan induk dan para pemegang saham lainnya pembagian bonus saham ini tidak mempengaruhi proporsi pemilikannya.
Misal :
Induk membeli 400 lembar saham anak dengan kurs 175%. Posisi modal anak adalah sebagai berikut :
            Modal Saham 500 lembar @ Rp. 100                      Rp. 50.000
            Laba yang Ditahan                                        Rp. 27.500
Pada tahun tersebut, anak memperoleh laba Rp. 12.500 dan membagikan bonus 50% dari modal yang telah beredar.
Metode Harga Perolehan ( Cost Method )
            Apabila metode harga perolehan dipakai, maka tidak ada penghasilan apapun yang harus di akui dari bonus saham yang dibagikan dilain pihak nilai investasi juga tidak berubah meskipun dalam hal ini diterima saham yang sama sebanyka 200 lembar (50% x 400 lembar ). Hal ini sesuai kenyataan , disamping tidak ada pengorbanan yang terjadi untuk 200 lembar saham yang diterima kemudian ini, juga tambahan 200 lembar sahamyg diterima sekarang dimiliki itu sam seklai tidak mempengaruhi besarnya bagian  pemilikan perusahaan induk pada perusahaan anaknya.
Daftar Lajur Sesaat Setelah Pembelian Saham
Keterangan
Induk
Anak
Eliminasi
Neraca Konsolidasi
Debet :






Investasi saham-saham Anak
70.000





Elim 80% Modal saham



40.000


Elim 80% LYD



22.000


Selisih lebih harga perolehan diatas nilai buku saham



8000












Kredit :






Modal saham Anak elim 80 %

50.000




Hak pemegang saham


40.000



minoritas 20%





10.000
LYD Anak elim 80%

27.500




Hak pemegang saham


22.000



minoritas 20%





5.500







Oleh sebab itu tidak ada satu alasan apapun untuk menaikan nilai investasi saham-sahamnya bagi Induk. Oleh karena itu pembagian saham bonus berakibat pengurangan terhadap saldo laba yang di tahan dan kenaikan jumlah modal statutair dari jumlah pada saat terjadi pembelisn saham, maka apabila setelah terjadi pembagian saham bonus ini disusun neraca konsolidasi. Eliminasi hak-hak pemilikan dari perusahaan induk diatur sebagi berikut :
1.      Eliminasi terhadap modal saham, dipakai titik tolak dari posisi terakhir(setelah pembagian bonus saham ) sebesar presentase pemilikannya.
2.      Eliminasi terhadap saldo Laba Yang Ditahan bertitik tolak dari saldo Laba Yang Ditahan  pada saat /tanggal terjadinya pembelian saham-saham dikurangi dengan jumlah yang di kapitalisasi sebagai modal saham (statutair).
Atas dasar ketentuan tersebut diatas maka bentuk daftar lajur penyususnan neraca konsolidasi , menurut harga perolehan akan nampak sebagai berikut :
Metode Harga Perolehan (Cost Method )
Keterangan
Induk
Anak
Eliminasi
Neraca Konsolidasi
Debet :






Investasi saham-saham Anak
70.000





Elim 80% Modal saham



60.000


Elim 80% LYD



2.000


Selisih lebih harga perolehan diatas nilai buku saham




8000